Jumat, 19 Mei 2017

Dokumentasi

View Article

Deklarasi Pembentukan FKTBM Malang Raya tanggal 17 Mei 2016 di Perpustakaan Anak Bangsa Kab. Malang


HUT ke-1 FKTBM Malang Raya di Ruang Belajar Aqil, Jl. Cempaka No 1 Malang 

Senin, 17 April 2017

Angkot Baca dari Mahasiswa Penggerak

View Article

Berpikir dan berkarya, demikian kiranya yang ada di benak masing-masing mahasiswa yang tergabung dalam wadah MAGER atau Mahasiswa Penggerak. Mereka merasa jengah dan malu dengan menyandang predikat mahasiswa agent of change. Mereka malu karena tidak berbuat apapun bagi perubahan. Akhirnya pada awal April 2017 ini secara resmi mereka berkarya melalu angkot baca. Ide ini sebenarnya sudah berjalan di Bandung yang dilakukan oleh Bang Udin, sopir angkot di Bandung. Dari Bang Udin inilah mahasiswa yang tergabung dalam MAGER bergerak dan mewujudkan aksi nyata ikut serta dalam berliterasi dengan memanfaatkan angkot di Kota Malang. Sementara saat ini hanya ada 5 angkot, kedepan akan bertambah hingga 10 angkot. Akbar, sebagai koordinator MAGER dalam bidang pendidikan akhrinya memperoleh dukungan dari Ketua FKTBM Malang Raya, Santoso Mahargono untuk memperbanyak angkot baca ini. Saat ini FKTBM Malang Raya mendukung kegiatan MAGER dengan menyediakan buku bacaan yang diperoleh dari BANK BUKU. Santoso Mahargono bahkan juga mensponsori biaya pembuatan stiker angkot baca ini agar mudah dikenali oleh penumpang. Harapannya jika di depan dan di belakang bodi angkot ditempel stiker, maka penumpang yang ingin memperoleh fasilitas bacaan akan bisa memilih angkot dengan mudah, karena sudah terlihat dari kejauhan. Sementara saat ini FKTBM Malang Raya terus menggalang pengumpulan buku dari masyarakat guna mendukung angkot baca ini

Rabu, 05 April 2017

Mengolah Palet sebagai Buah dari Literasi

View Article

Siapa bilang literasi hanya berhenti membaca dan menulis saja? Awal pengertian literasi secara sempit adalah untuk kemampuan dalam hal membaca, namun kemudian ditambahkan juga dengan kemampuan menulis. Abad pertengahan, ada istilah LITERATUS yang ditujukan bagi orang yang dapat membaca, menulis dan bercakap-cakap dalam bahasa Latin. Sejarawan Italia, Carlo M. Cipolla menggunakan istilah "SEMI-ILITERATE" untuk orang yang dapat membaca tetapi tak bisa menulis. 

Perkembangan selanjutnya, pengertian literasi bukan hanya berkaitan dengan KEBERAKSARAAN atau MELEK HURUF atau KEBAHASAAN saja, namun berkembang menjadi konsep fungsional. Hal ini ditandai dengan pemahaman yang disampaikan oleh Sofia Valdivielso Gomez bahwa literasi berkaitan dengan berbagai fungsi dan keterampilan hidup (Sofia Valdivielso Gomez, 2008) .

Konsep Literasi juga dimaknai sebagai seperangkat kemampuan mengolah informasi, jauh di atas kemampuan menganalisa dan memahami bahan bacaan. Itu artinya, literasi bukan hanya tentang membaca dan menulis, namun juga mencakup bidang lain, seperti ekonomi, matematika, sains, sosial, lingkungan, keuangan, bahkan moral (moral literacy).

Saat ini, di era abad 21, literasi sudah pada tataran implementasi berkarya dalam kemandirian, kesejahteraan dan komunikasi. Oleh karen itu, banyak pegiat literasi yang secara mandiri melalui membaca lalu memiliki kemampuan dalam mengembangkan diri. Misalnya Afifudin Zuhri, seorang tokoh pemuda di desa Watugede Singosari yang berhasil merubah limbah kayu palet untuk digunakan sebagai meubeler siap pakai, artistik dan tentu kokoh. 

Pemilik taman baca DAMAR KREATIF ini mampu membuat meubeler dari bahan kayu palet yang didatangkan dari Pandaan Pasuruan. Selain membuat meubeler dari kayu palet, Afif demikian panggilannya, juga membuat kursi cafe dari bekas kaleng 5 kg. cat tembok. Semua di beri sentuhan artistik dan menawan. Setelah ditampilkan dalam media sosial, karya Afif mendapat respon dari berbagai orang, hal inilah yang membuat Afif bersemangat dalam berkarya. Jika anda membutuhkan perabot untuk cafe, rak buku, rak TV, kitchen set dengan bahan dari kayu palet, hubungi segera Afif di nomor HP 0857 4811 3464

Jumat, 17 Maret 2017

Menularkan Literasi pada Anak Didik di Sekolah

View Article

Anak didik sekolah saat ini mau tidak mau harus ikut aktif dalam literasi. Program Gerakan Literasi Sekolah (GLS) yang didengungkan oleh Kemendikbud pada tahun 2015 lalu menjadi sebuah pertanda bahwa denyut literasi harus dihidupkan. Hal inilah yang mendorong empat orang pustakawan sekolah di Malang untuk mengajak anak didik peduli dengan literasi serta menggiatkan literasi bersama-sama. Adalah Mochamad Rukhan dari SMKN 4 Malang, Khoirul Anwar dan Febriatul Rohmah dari SMKN 3 Malang dan Armiatur Rachmi dari SMAN 5 Malang secara bersama-sama membentuk perkumpulan PUSJA (Pustakawan Remaja) yang terdiri dari anak didik dari masing-masing sekolah untuk peduli dan membantu kegiatan perpustakaan sekolah. Kebetulan Mochamad Rukhan dan Khoirul Anwar tergabung sebagai anggota FKTBM Malang Raya, sehingga gema literasi bisa didengungkan di sekolah. Mereka berdua memiliki TBM dirumahnya, yaitu TBM Teras milik Mochamad Rukhan serta TBM Saudara Pustaka milik Khoirul Anwar. Rencananya aksi pertama PUSJA adalah melakukan bakti sosial di daerah pelosok Malang untuk membantu menyumbang buku bacaan di Taman Bacaan di Malang.

Minggu, 12 Maret 2017

UNIRA Siap Mendukung FKTBM Malang Raya

View Article


Sebuah gelaran acara yang dikemas secara menarik telah sukses diselenggarakan oleh FKTBM Malang Raya, khususnya bagi anggota yang berada di Kabupaten Malang Selatan. Acara yang mengambil tajuk Workshop Pengelolaan  Taman Bacaan Masyarakat ini telah sukses menjaring setidaknya 10 orang dengan tekad akan mendirikan TBM di daerahnya masing-masing. Peserta workshop tidak hanya dari Kabupaten Malang, tetapi ada juga dari Kota Malang dan Kota Batu. Workshop diawali dengan sambutan dari Ketua FKTBM Malang Raya, Santoso Mahargono, lalu dilanjutkan dengan Pembukaan oleh Rektor Universitas Islam Raden Rahmat Kepanjen Kabupaten Malang. Dalam sambutannya Santoso Mahargono menyampaikan bahwa saat ini keanggotaan FKTBM Malang Raya sudah mencapai 110 orang pengelola taman baca yang tersebar di Malang Raya, untuk itu potensi yang sangat bagus ini bisa menjadi modal bagi kegiatan literasi di Malang Raya. 

Hasan Abadi selaku rektor bahkan sengaja menawarkan kerjasama dalam bentuk pemberian bea siswa bagi pengelola TBM di Malang Raya yang tergabung dengan FKTBM Malang Raya untuk melanjutkan kuliah di UNIRA Kepanjen dengan potongan biaya atau bea siswa. "Kami juga memberi potongan bagi pengelola TBM yang tergabung di FKTBM untuk dapat kuliah di UNIRA dan bagi yang tidak mampu akan kami bebaskan biaya kuliahnya", demikian janji Hasan Abadi disela-sela pembukaan workshop.

Acara berlanjut pada inti, yaitu penyampaian materi oleh Sukowiyono, Kepala Dinas Perpustakaan dan Arsip Kabupaten Malang. Pemateri berikutnya disampaikan oleh Wily Ariwiguna tentang tata kelola TBM dan pada penghujung acara di suguhkan sebuah materi menarik sekaligus menghidupkan suasana, yaitu saat Eko Cahyono membagikan buku dan membuka habis-habisan bagaimana kondisi minat baca serta kepedulian pemerintah, masayarakat serta keluarga terhadap minat baca. Bahkan beberapa peserta saling berebut untuk menjawab quiz yang berhadiah buku dari Eko Cahyono. 

Minggu, 26 Februari 2017

Membuat Lampion Itu Mudah Lho?!

View Article

Jika ditanya siapa yang sering punya gawe literasi di Kota Malang? jawabnya adalah Ruang Belajar AQIL yang beralamatkan di Jalan Cempaka No 1 Malang. Adalah Wily Ariwiguna, pendiri dan pengelola Ruang Belajar AQIL yang bersama dengan mahasiswa dari berbagai jurusan dan dari berbagai kampus itu mampu mengajak anak-anak di sekitar Ruang Belajar AQIL untuk belajar bersama membuat lampion dari kertas. Uniknya anak-anak itu membuat lampion dengan segala kreasi hiasan yang dibuatnya sendiri. Ada yang bergambar katak, panda, pemandangan alam dan sebagainya. Acara yang dikemas secara baik ini mampu melatih anak-anak dalam berkesenian, melatih sensor motorik, melatih kemampuan kognitif, yaitu kemampuan dalam berfikir dan memecahkan masalah. Apa hubungannya??, memang kelihatannya mereka hanya membuat kotak lampion saja, nyatanya mereka disuguhkan pada kemampuan berfikir, bagaimana agar bidang tertentu yang diberi tempelan kertas, lalu berfikir supaya menarik ditambah hiasan apa dan pada akhirnya mereka mampu mengatasi permasalahan secara mandiri dan bersama teman-teman menikmati belajar sambil bermain.

Senin, 02 Januari 2017

Eko Cahyono, Presenter Sekaligus Moderator Unik di Malang Raya

View Article

Jagat Perpustakaan di Malang Raya pastinya tak akan asing dengan sosok yang satu ini, Eko Cahyono atau yang akrab disapa Mas Eko ini adalah pendiri Perpustakaan Anak Bangsa di Jabung Kabupaten Malang. Sosoknya yang ramah, cerdas dan mampu menarik perhatian ini sedang didaulat untuk menjadi presenter sekaligus moderator pada acara bedah buku yang diselenggarakan oleh Three GP Production, sebuah EO dalam pameran buku yang bertajuk Pesta Malang Sejuta Buku di Taman Krida bilangan Soekarno Hatta Malang. Gelaran Pesta Malang Sejuta Buku itu dibuka selama 7 hari sejak tanggal 29 Desember 2016 dan akan berakhir pada tanggal 4 Januari 2017. Selama gelaran itulah Eko Cahyono mampu membawakan acara bedah buku 2 sesi sampai 3 sesi sekaligus dalam sehari, selama itu pula Eko Cahyono harus merampungkan bedah buku dengan 20 penulis serta mengundang sekitar 20 komunitas yang berbeda-beda. Ini tentunya unik, karena jarang ada pembawa acara yang secara tujuh hari berturut-turut harus mampu menghidupkan suasana bedah buku supaya tidak garing. Apalagi Eko Cahyono juga tidak enggan untuk berkeliling mengatur tempat duduk, mempersilakan tamu yang datang sekaligus membawakan mikropon bagi peserta yang akan bertanya, bahkan sempat pula membagikan pizza kepada peserta pada saat bedah buku Pizza dari Surga kemarin (02/01). Empat tugas sekaligus dilakoni selama tujuh hari berturut-turut, itu masih belum termasuk tugas yang lain seperti pengedar undangan di medsos melalui Facebook dan Group WA. Alhasil dengan menampilkan penulis novel dan penulis puisi sebanyak 20 orang ini Eko Cahyono juga pintar meracik kelompok musik yang akan tampil di panggung. Kelompok musik itu mengiringi sekaligus menghibur pengunjung pada gelaran pesta buku tersebut. Gimana? unik bukan? ada presenter dan moderator sekaligus merangkap tugas lain-lain seperti Eko Cahyono?

Kamis, 24 November 2016

Kak Adit Relawan Go Read di Kampus UNIRA Kepanjen

View Article
 Sosoknya pendiam, sopan dan bersahaja, namun jangan ditanya soal keuletan dan kerelaannya dalam bersosial. Adit Tiya Jaya Saputra, pengelola Omah Ilmu sekaligus relawan Go Read ini akhirnya bisa menembus birokrasi Kampus Universitas Raden Rahmat Kepanjen dalam menggalang donasi buku yang dia sebut sebagai SEDEKAH BUKU. Aksinya mengumpulkan sumbangan buku dari civitas kampus UNIRA ini mendapat respon setelah Adit memasukkan proposal Bank Buku yang dia sampaikan ke Rektor. Alhamdulillah, dalam tempo sebulan pihak kampus memberikan jawaban dan hal ini membuat Adit harus menyediakan tempat untuk donasi buku tersebut. Namun kontainer atau box plastik yang sudah disediakan oleh Go Read bisa menampung seluruh buku sumbangan. Buku-buku tersebut berhasil dikumpulkan dari dosen dan mahasiswa.

Minggu, 20 November 2016

Muzaki, Relawan Go Read yang Suka Buka Lapak

View Article
Tokoh muda yang satu ini patut diacungi jempol, ditengah kesibukannya mengajar di sekolah yang dikelola oleh yayasan Pondok Pesantren Assalam Rejoyoso Bantur, serta kesibukannya mengelola Perpustakaan Sekolah setempat nampaknya dia tetap berkarya dengan membuka lapak di sela-sela hari libur. Dengan membawa buku yang dimasukkan dalam kontainer plastik, pagi itu Muzaki berangkat ke Pondok Pesantren Assalam untuk membuka lapak yang menyediakan bacaan buku berbagai subyek. Jiwanya yang dekat dengan dunia pendidikan serta dunia keceriaan anak-anak rupanya telah membawa semangat yang beda dengan pemuda seusianya. Ketika libur pun dia rela membawa bukunya hanya untuk dibaca oleh santri di pondok. "Ini panggilan hati, puas rasanya jika anak-anak disini dapat membaca buku secara gratis, mudah dan sewaktu-waktu", paparnya disela-sela kesibukannya membuka lapak buku. 

Sabtu, 12 November 2016

Relawan Go Read Ikut Serta Dalam Seminar GLS

View Article
Dalam menggelorakan semangat literasi di bumi Malang, Perpustakaan Universitas Negeri Malang melaksanakan Seminar Nasional Gerakan Literasi Sekolah yang mengundang narasumber dari Kemendikbud Wien Muldian, Saiful Rachman dari Diknas Provinsi Jawa Timur, dan Titik Harsiati dari dosen Ilmu Perpustakaan Universitas Negeri Malang. Dekan Fakultas Sastra UM, Prof. Utami Widiati, M.A. Ph.D. membuka kegiatan yang diikuti oleh 170 orang peserta yang terdiri dari guru, waka kurikulum, dan pengelola perpustakaan sekolah dari seluruh Indonesia ini. Saiful Rachman, memaparkan tentang Gerakan Literasi Sekolah (GLS) dalam K13 di Jawa Timur. Beliau menyampaikan bahwa mengingat pentingnya literasi, kemampuan berliterasi, dan tradisi literasi serta budaya literasi bagi individu, masyarakat, dan bangsa, maka literasi perlu ditanamkan, ditumbuhkembangkan, ditradisikan dan dibudayakan di semua lini pendidikan sehingga terbentuk tradisi budaya literasi yang mantap di satuan pendidikan terutama satuan pendidikan formal atau sekolah.

Selanjutnya Wien Muldian, menyampaikan materi tentang Penguatan Perpustakaan Sekolah sebagai Motor GLS. Dalam paparanya dijelaskan guru perlu memanfaatkan media pembelajaran dalam perpustakaan untuk menumbuhkan minat baca dan meningkatkan kecakapan literasi peserta didik. Upaya lain yang dapat dilakukan adalah melaksanakan lomba-lomba terkait literasi. Senada dengan dua  pemateri sebelumnya, Titik Harsiati memaparkan tentang kemampuan mengakses, memahami, dan menggunakan informasi secara cerdas. Literasi memiliki beberapa komponen diantaranya literasi dini, literasi dasar, literasi perpustakaan, literasi media, literasi teknologi dan literasi visual.